Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Friday, June 15, 2012

KIRIM PUNDEN

Ahmad Efendi (SMA N 1 Girimarto): fensas

fendysastra.blogspot.com  INILAH CERPENKU YANG BEBERAPA WAKTU LALU MEMBUAT PENASARAN ANAK-ANAK KARENA BEBERAPA BAGIAN CERITA SAYA KUTIP UNTUK SOAL ULANGAN BAHASA INDONESIA. 
SETELAH MEMBACA SAYA TUNGGU KRITIKAN DAN SARAN ANDA DI KOTAK KOMENTAR:


Pagi hari di sebuah dusun yang terletak di lereng Gunung Lawu. Dapur-dapur mengepulkan asap, menebarkan aroma gurih ayam panggang, menyeruak di seluruh sudut rumah.  
Suratno duduk di sebuah dingklik[1] kayu yang mulai keropos karena dimakan rayap. Kaos putih buluk[2] yang melekat di tubuh, dilepas dan dicantelkan di garan[3] cangkul yang berada tepat di sampingnya.
Sebuah parang dan seruas bambu diraihnya. Parang diayun, prak…, menebas batang bambu menjadi beberapa bagian.
Punggung Suratno terlihat hitam mengkilat ketika otot-otonya meregang. Titik-titik peluh perlahan muncul seperti butir-butir embun yang dibawa angin dini hari.
“Pak, apa tidak ada cara lain?” Paikem mendekat, tangan kirinya mengusap lembut punggung Suratno yang sekarang sudah benar-benar basah diguyur keringat.
“Hanya ini cara yang terbaik Mak.” Suratno berucap lirih, berusaha meyakinkan istrinya.
“Sebenarnya, semalam bapak sudah ke rumah Lek Walijo. Tapi begitu sampai di depan pintu, tak ada keberanian untuk mengetuk masuk. Pikiranku disesaki beban pinjaman sewaktu  kelahiran anak kita dulu. Mak, Sedikit pun kita belum mencicil, padahal sudah empat tahun lebih.” Suratno berkeluh kesah pada Paikem. Sebentar-sebentar dia mengusap dahinya yang kelimis[4] berkeringat.
 “Betul Pak, tak enak jika harus pinjam lagi. Tapi, apa harus seperti ini? Apa tak lebih baik jika tidak usah ikut kirim punden[5]?” Paikem memotong pembicaraan suaminya.
“Apa? Tidak ikut kirim punden sama saja dengan menelanjangi diri sendiri.” Nada bicara Suratno tiba-tiba meninggi. Matanya memerah dan sedikit melotot.
Apa yang dikatakan Suratno bukan tanpa alasan. Setahun yang lalu, sama seperti hari ini dia tidak punya cukup uang untuk membeli seekor ayam pun. Waktu itu, tanpa berpikir panjang Suratno memutuskan untuk tidak ikut kirim punden.
Waktu itu beberapa bulan setelah ritual kirim punden, hujan tak kunjung datang meski musim kemarau telah habis. Tikus, belalang, dan wereng menyerang sawah dan perkebunan. Dusun dilanda paceklik[6], dan semua warga seperti menyalahkan Suratno karena tidak ikut kirim punden.
“Dusun kita dikutuk. Sri Kunti[7] pasti marah besar karena sesajinya kurang.” Begitulah desas-desus itu berhembus. Setiap kumpul-kumpul semua pasti menyindir dan menggunjing. Kala itu Suratno merasa terhakimi. Dia merasa seperti ditelanjangi, ditelanjangi oleh nasib dan kemiskinannya.
Kali ini ceritanya lain. Suratno akan nekat ikut kirim punden meski tanpa ayam panggang sebagai pelengkap sesaji. 
“Ya sudah Pak, cepat diselesaikan sujen[8]-nya, mumpung Supri masih tidur!” Paikem kembali masuk ke dapur, meninggalkan suaminya yang sedang sibuk membuat sujen.
Sujen telah selesai dibuat. Suratno membawa sujen  itu ke dapur dan mengolesinya dengan  jelantah[9] berwarna hitam, pekat, dan berbau tengik.
Sujen yang telah berlumuran jelantah kemudian dimasukkan sebentar ke dalam bara api. Suratno pun tersenyum puas karena sujen yang semula berwarna putih sekarang menjadi coklat kehitaman, layaknya sujen yang dipakai untuk memanggang ayam.
Paikem melirik Suratno, tapi tak begitu mempedulikan ulah suaminya itu. Dia justru sibuk sendiri menyiapkan ambengan[10] untuk kirim punden nanti.
“Sudah jadi belum Mak ambengannya?” Suratno bertanya pada Paikem sambil meniup-niup dan sesekali mengelap sujen itu dengan tangannya.
Paikem tersenyum. Sebuah ambengan besar sudah tertata apik di dalam baskom. Bentuknya seperti gunung, mengerucut dan berwarna putih. Sementara di bagian bawahnya ditutup dengan beberapa lembar daun pisang. 
“Dari mana Make mendapatkan beras sebanyak itu?” Suratno pun terkejut melihat ambengan yang dibuat istrinya.
 “Pak, dilihat dulu bagian bawahnya.” Paikem tersenyum kecut sambil menunjukkan bagian bawah ambengan yang telah dibuatnya. Warnanya tidak putih tapi kuning kecoklatan.
Ambengan yang dibuat Paikem ternyata mempunyai dua tingkat. Bagian atas terbuat dari nasi beras, sedangkan bagian bawahnya terbuat dari tiwul[11]. Ternyata Paikem sengaja menutup bagian bawah ambengannya supaya nasi tiwulnya tidak terlihat.
Kini lengkap sudah kebohongan sepasang suami istri itu. Paikem dengan nasi tiwulnya dan Suratno dengan sujennya.
Paikem berucap lirih “Sisa beras kita tinggal seperempat gelas Pak, tak mungkin cukup untuk membuat ambengan sebesar itu.” Air mata Paikem tiba-tiba menitik, bibirnya sedikit bergetar.
“Ini beras terakhir kita Pak, dan hanya sedikit gaplek yang masih tersisa. Pak, kalau perut kita mungkin sudah terbiasa diganjal dengan tiwul, tapi Supri?” Paikem tiba-tiba menunduk sedih,  berusaha menyembunyikan air matanya yang tertumpah. Tangannya pun terlihat sibuk menaburi ambengan dengan sedikit irisan tahu goreng dan meletakkan sebutir telur ayam rebus di atasnya.
“Pak nanti telur ini untuk Supri ya, kasihan dia Pak, di sana Supri pasti melihat teman-tamannya makan ayam.” Kali ini Paikem tak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Dia menangis sesenggukan di depan suaminya.
Suratno hanya menganggukan kepala. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya terasa kelu, tak mampu berkata-kata lagi.
Suratno sejenak terdiam dan kembali fokus pada sujennya. Sujen itu kemudian ditancapkan ke dalam ambengan yang telah dibuat Paikem. Selembar kain pun disiapkan untuk membungkus ambengan itu dengan posisi sujen dibuat agak menyembul keluar.
Suratno sengaja membiarkan sujennya menyembul keluar. Dengan begitu semua pasti mengira jika ada ayam panggang di dalamnya.
Kentongan pun berbunyi, menandakan bahwa kirim punden segera dimulai. Suratno membangunkan Supri yang masih terlelap dan bersiap mandi. Sementara Paikem menyiapkan baju untuk suami dan anaknya itu.
Suratno bergegas pergi ke danyangan[12] yang  letaknya tak begitu jauh dari rumahnya. Supri menempel di punggung bapaknya, sementara tangan kanan Suratno memegang bungkusan ambengan berbalut kain.
Aura mistis langsung terasa begitu masuk di area danyangan. Di sana terdapat pohon beringin besar dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu. Beberapa kelopak bunga mawar  tampak berserakan di tanah, menyisakan aroma harum minyak kenyongnyong yang menyengat hidung.
Puluhan warga telah berkumpul di danyangan. Semua duduk bersila dan membawa bungkusan sesaji, lengkap dengan ambengan dan ayam panggang bersujen. 
Sementara itu tampak seorang laki-laki tua duduk bersila di bagian paling depan. Posisinya tepat di bawah pohon beringin.
Beberapa saat kemudian, mulut laki-laki tua itu terlihat komat-kamit sambil membakar kemenyan di atas batok kelapa berisi abu. Asap tebal langsung mengepul, berbau sengak dan menusuk hidung, menandakan bahwa ritual kirim punden telah dimulai.
Dua orang laki-laki setengah baya terlihat berdiri dan berkeliling. Masing-masing bertugas mencabut semua sujen dan  mengambil sebuah paha ayam yang dibawa semua warga dusun.
Semua paha ayam dikumpulkan pada selembar daun jati yang lebar. Sementara sujen  yang diambil dikumpulkan di sebuah keranjang bambu.
Suasana seketika menjadi riuh. Hanya Suratno yang terlihat diam dan tegang berkeringat.
Lelaki yang bertugas mencabut sujen mendekat di barisan tempat di mana Suratno sedang duduk bersila. Suratno bergegas mencabut sendiri sujennya sebelum lelaki itu melakukannya. Dengan begitu takkan ada yang tahu isi bungkusan yang dibawanya.
Kali ini giliran lelaki yang bertugas mengumpulkan paha ayam mendekat. Suratno terlihat sangat gelisah. Jantungnya berdesir dan berdegup kencang. Pikirannya semakin tak karuan, karena jika sampai lelaki itu membuka bungkusannya, maka terbongkarlah semua.
“Maaf Kang saya ambil ya paha ayamnya.” Lelaki itu meminta izin untuk mengambil paha ayam di dalam bungkusan yang dibawa Suratno.
“Oh, a…anu….e…pu.. punya saya sudah diambil tadi sekalian yang ngambil sujen.”  Suratno tampak gugup dan belingsatan karena telah berbohong. Berkali-kali dia memandang Supri dengan raut muka penuh sesal.
Lelaki itu akhirnya urung mengambil paha ayam dalam bungkusan. Suratno kembali merasa sedikit lega, meskipun sebenarnya hatinya juga bergejolak. Nuraninya berontak, karena harus berbohong di depan anaknya.
Tiap hari, Suratno selalu menasehati putra semata wayangnya itu supaya berkata jujur. Tapi kali ini dia justru berbohong di depan Supri. Dan itu adalah pukulan telak yang menghujam di hati Suratno. Pukulan yang tepat  menghantam dinding-dinding nuraninya. 
Suratno termenung sesaat. Kepala Supri dielus-elus dan dikecup lembut.
Acara kirim punden masih berlangsung. Semua sujen kini telah terkumpul dan ditancapkan di dekat kemenyan yang dibakar. Sementara paha ayam yang dikumpulkan, sekarang dibagikan kembali.
Supri pun mendapatkan bagian paha ayam, meskipun ukurannya sangatlah kecil. Dia terlihat senang bukan main menggenggam sepotong paha ayam di tangan kanannya. Cepat-cepat dia melahap daging gurih kenyal itu.
Suratno tersenyum haru melihat Supri menikmati sepotong paha ayam. Dia teringat terakhir kali anaknya itu makan daging ketika lebaran, sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu. Itupun karena kebaikan hati Lek Walijo, tetangganya yang telah mengantarkan serantang kare ayam di malam lebaran.
Matahari mulai naik dan terik. Ritual kirim punden ditutup dengan mantra-mantra yang dibaca sesepuh dusun. Beberapa butir kemenyan kembali dibakar dan diiringi oleh seruan “amin” dari semua warga yang datang di danyangan.
Supri masih terlihat asyik menggigit sedikit daging yang masih menempel pada tulangnya.  Ujung-ujung tulang lunak paha ayam dikunyah-kunyahnya hingga bersih.
Suratno tiba-tiba merasakan jantungnya berdesir ketika melihat anaknya menjilati sisa-sisa tulang ayam. Supri terus menggigit dan menjilati tulang itu meski tak sedikit pun daging yang masih menempel. Mata Suratno berkaca-kaca melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
Suratno kemudian mengambil sebutir telur ayam dari dalam bungkusan. Cepat-cepat dia merebut tulang yang dipegang Supri dan membuangnya. Sungguh kala itu Suratno merasa miris melihat anaknya menjilati tulang yang sudah bersih tak berdaging.
Supri pun terlihat kecewa, tak merelakan tulang yang dibuang bapaknya. Namun sesaat kemudian dia tersenyum meraih telur rebus yang diberikan Suratno dan langsung melahapnya.
Ritual kirim punden telah selesai. Semua berdiri dan bersiap pulang membawa sisa bungkusan di tangan masing-masing.
Sebelum bubar, beberapa anak yang juga ikut ke danyangan meminta daging ayam yang dibawa orang tua mereka masing-masing. Supri pun melihat seorang anak mengambil sendiri sepotong daging ayam dari dalam bungkusan.
 Melihat itu, Supri tiba-tiba merengek-rengek meminta daging ayam pada Suratno. Supri berpikir jika bungkusan yang dibawa bapaknya pasti juga berisi ayam panggang, sama seperti bungkusan yang lain.
Suratno kebingungan menghadapi anaknya yang terus merengek. Berulangkali dia beralasan akan memberi Supri daging setelah pulang nanti.
Entah kenapa, Supri yang biasanya pendiam dan penurut sekarang menjadi sangat rewel. Supri terus merengek dan menangis meminta daging ayam pada bapaknya.
Suratno sekarang benar-benar merasa bingung. Berbagai cara dilakukan untuk menenangkan Supri, namun tidaklah berhasil.
Rupanya Supri sudah benar-benar rewel. Tiba-tiba dia mengamuk dan menarik bungkusan di tangan Suratno.
Bungkusan itu pun akhirnya terlempar ke tanah. Semua isi dalam baskom berhamburan keluar.
Ambengan yang berada di dalam baskom kini berserakan tak berbentuk lagi. Bercampur antara nasi putih dan tiwul. Bahkan beberapa nasi dan potongan tahu goreng menyatu sempurna dengan tanah.
 Semua orang memperhatikan kejadian itu, melihat heran isi bungkusan Suratno yang terjatuh ke tanah. Mereka pun kini tahu jika ternyata tak ada ayam panggang di dalamnya. Di sana hanya ada nasi, itupun nasi putih yang dicampur dengan nasi tiwul dan beberapa potongan tahu yang digoreng.
Suratno tiba-tiba menjadi lemas, merasakan tubuhnya seperti tak bertulang lagi. Kepala Suratno tertunduk tak berani menampakkan muka. Sementara tangannya terus mengais-ngais, memungut sisa-sisa ambengan dan beberapa potong tahu goreng yang masih bisa dimakan.
Semua orang hanya bisa menyaksikannya tanpa berani bertindak atau mengatakan sepatah katapun. Sementara Supri terus menjerit ketakutan, takut jika sampai bapaknya marah.
Wajah Suratno terlihat pucat dan redup. Kali ini dia merasa benar-benar telanjang. Ditelanjangi oleh nasib dan kemiskinannya.
Sesaat kemudian Suratno mengambil baskom yang berisi sisa-sisa ambengan dan memeluknya erat-erat. Dia berusaha berdiri dan berjalan meskipun agak gontai. Namun tiba-tiba tubuh Suratno oleng  hingga akhirnya tersungkur, terjerembab ke tanah tak sadarkan diri. Tepat di samping anaknya yang masih menjerit dan semakin menjerit.


Keterangan istilah asing:
[1] dingklik: tempat duduk kecil yang terbuat dari papan kayu
2 buluk: usang dan kumel
3 garan: gagang/pegangan
4 kelimis: mengkilat
5 kirim punden: tradisi memberikan persembahan kepada leluhur berupa ayam panggang. Kirim punden biasanya berpusat di danyangan (punden) atau tempat yang dianggap keramat. Tradisi ini juga biasa disebut bersih desa/bersih dusun (paes).
6 paceklik= musibah gagal panen
7 Sri Kunti= sosok gaib yang dikeramatkan warga
8 sujen= potongan bambu yang dibuat memanjang seperti pedang, bagian ujungnya dibuat runcing dan digunakan untuk memanggang ayam (dengan cara menusuk daging ayam yang masih utuh).
9 jelantah= minyak bekas menggoreng
10 ambengan= nasi tumpeng untuk sesaji
11 Tiwul= nasi yang terbuat dari tepung gaplek (singkong yang dikeringkan)
12  Danyangan= punden (tempat yang dianggap keramat)
















ads

Ditulis Oleh : Ahmad Efendi Hari: 10:11 PM Kategori:

6 comments:

  1. TIKA DWI ARIANI
    XI.IA 1

    cerpennya bagus pak, didalam nya ada unsur instrinsik keagamaan. dimana pak suratno masih percaya dengan adanya kirim punden atau bersih desa.masyarakat sekitar yakin, jika ada salah satu warganya yang tidak ikut kirim punden akan terjadi bencana.

    ReplyDelete
  2. Nama:Fitri Nur S
    No :10
    Cerpen KIRIM PUNDENnya bagus pak....

    ReplyDelete

 

viva

Adsensecamp

ppcindo